Mengenai Saya

Foto saya
Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Himpunan mahasiswa Bogor adalah organisasi Primordial yang didirikan oleh maha siswa yang sedang menempuh studi di Jakarta, organisasi ini berdiri pada tanggal 26 Oktober 2008 di Cisarua Bogor dari hasil BADAG ( Badami Ageung ) dalam deklarasi/pendirian HIMABO tersebut kurang lebih diikuti 47 orang. maka dari hasil BADAG tersebut berdirilah HIMABO sampai sekarang.

Pengikut

RSS

Draft RAKER HIMPUNAN MAHASISWA BOGOR (HIMABO) JAKARTA PERIODE : 2008-2009

TATA TERTIB RAPAT KERJA (RAKER)

HIMPUNAN MAHASISWA BOGOR

JAKARTA

PERIODE 2008-2009

BAB 1: KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Nama

Rapat Kerja Pengurus Himpunan Mahasiswa Bogor (HIMABO) Jakarta

Pasal 2

Pelaksana, Waktu dan Tempat

Dilaksanakan oleh panitia RAKER pada hari jum’at, tanggal 07 November 2008 di Aula Munahasah

Pasal 3

Status

Rapat kerja ini merupakan rapat paripurna anggota Himpunan Mahasiswa Bogor (HIMABO) Jakarta

Pasal 4

Kekuasaan/Wewenang

  1. membahas kebijakan umum organisasi
  2. membahas program kerja
  3. membuat, membahas dan menetapkan Time Shcedule

BAB II : PESERTA

Pasal 5

  1. Peserta terdiri atas peserta penuh dan peserta peninjau
  2. Peserta penuh terdiri dari pengurus dan anggota Himpunan Mahasiswa Bogor (HIMABO) Yakarta
  3. Peserta peninjau terdiri dari BPKPO dan Undangan

Pasal 6

  1. Peserta penuh mempunyai hak berbicara dan hak suara
  2. Peserta peninjau mempunyai hak suara
  3. Peserta berkewajiban menjaga keamanan dan ketertiban jalannya sidang
  4. Peserta yang ingin mengajukan pertanyaan, saran dan usulan harus dapat persetujuan pimpinan sidang
  5. Peserta yang ingin keluar masuk harus izan lepada pimpinan sidang
  6. Pimpinan dapat memperingati atau mencabut status peserta yang tidak mematuhi point 3-5
  7. Peserta harus mengisi daftar hadar

BAB III : PERSIDANGAN

Pasal 7

Macam-macam sidang

Persidangan terdiri dari :

  1. Sidang pendahuluan
  2. Sidang Komisi
  3. sidang paripurna

BAB IV : PIMPINAN SIDANG

Pasal 8

  1. sidang pendahuluan dipimpin oleh panitia Rapat Verja (RAKER) Himpunan Mahasiswa Bogor Yakarta (HIMABO) Yakarta
  2. Sidang komisi dipimpin oleh ketua sidang komisi terpilih
  3. Sidang paripurna dipimpin oleh presidium sidang terpilih

BAB V : QUORUM

Pasal 9

I. Presidium

  1. pimpinan sidang Rapat Kerja (RAKER) dinyatakan sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya setengah lebih satu dari jumlah peserta Rapat Kerja
  2. Setiap peserta berhak mengajukan tiga calon Presidium sidang
  3. suara terbanyak 1-3 dinyatakan sah sebagai presidium sidang
  4. Bila terdapat suara berimbang maka diadakan pemilihan ulang, dan jika masih sama maka keputusan diserahkan kepada presidium sidang dengan memperhatikan aspirasi peserta

II. Sidang Komisi

  1. Pimpinan sidang komisi berasal dari Badan Pengurus Harian (BPH)

III. BPKPO

  1. Anggota BPKPO adalah anggota Himpunan Mahasiswa Bogor (HIMABO) yang memiliki kapasitas intelektual dan pengalaman organisasi untuk satu periode kepengurusan, serta tidak dipilih untuk kedua kalinya
  2. BPKPO bejumlah 5 orang

BAB VII : KEPUTUSAN

Pasal 11

  1. Keputusan diambil secara musyawarah secara mufakat
  2. jira point 1 (satu) tidak terpenuhi, maka keputusan ditetapkan dengan cara mencari suara terbanyak (Voting)

BAB VIII : ATURAN TAMBAHAN

Pasal 12

Segala sesuatu yang Belem diatur dalam tata tertib ini akan diatur kembali sesuai dengan kesepakatan peserta Badami Ageung (BADAG) dan presidium sidang yang tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku di Himpunan Mahasiswa Bogor (HIMABO) Jakarta

KONSIDERAN

KETETAPAN

RAKER Himpunan Mahasiswa Bogor (HIMABO) jakarta

No :02 /RAKER/HIMABO/

Tentang

TATA TERTIB RAPAT KERJA (RAKER)

HIMPUNAN MAHASISWA BOGOR

JAKARTA

PERIODE 2008-2009

Bismillahirrahmanirrahim

Badami Ageung BADAG himpunan mahasiswa bogor (HIMABO) Jakarta, dengan ini senantiasa mengharapkan ridho Allah SWT, setelah :

Menimbang :1. Untuk kelancaran dan ketertiban Badami Ageung ( (BADAG)

2. HIMABO Jakarta

Mengingat : AD/ART HIMABO

Hasil BADAG

Memperhatiakn : Hasil Pembahasan Sidang

Memutuskan

Menetapkan

1. Tata tertib rapat kerja (raker) Himpunan Mahasiswa Bogor Jakarta


2. ketetapan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan akan ditinjau kembali bila terdapat kekeliruan

Ditetapkan di Ciputat, Tangerang

Tanggal : 07 November 2008

PIMPINAN SIDANG

RAAT KERJA ( RAKER )

HIMPUNAN MAHASISWA BOGOR (HIMABO)

JAKARTA

Sofyan Ade Nansi Maulana yusuf M.Iqbal

(presidium I) (presidium II) (presidium III)

RANCANGAN KERJA

HIMPUNAN MAHASISWA BOGOR

JAKARTA

Periode 2008-2009

  1. Ketua Umum
    • Memegang kebijakan tertinggi ditingkatan pengurus
    • Mengontrol jalannya kepengurusan
    • Mengawasi jalannya kerja pengurus HIMABO
    • Penanggung jawab semua kegiatan HIMABO
    • Jika dibutuhkan, dapat me-reshuffle struktur kepengurusan HIMABO setelah berembuk dengan tim formateur

  1. Sekretaris Umum

· Memegang kebijakan umum dalam administrasi HIMABO

· Mengintervarisir dan menjaga barang-barang inventaris HIMABO

· Membuat bagan struktur organisasi

· Melakukan pengumpulan pencatatan, pengolahan, penyusunan dan pemeliharaan dokumentasi organisasi serta bahan-bahan yang berkenan dengan intern dan ekstern organisasi

· Melakukan pengaturan tentang tata cara pengelolaan surat menyurat yang meliputi penyelenggaraan surat masuk, surat keluar, pengetikan dan pengadaan surat dan pengaturan administrasi pengarsipan surat-surat

· Membuat milis HIMABO sebagai media komunikasi dan pendataan kader

· Mendampingi ketua setiap saat dalam jalur organisasi

  1. Bendahara Umum

· Mengatur administrasi keuangan HIMABO

· Menyusun anggran pengeluaran untuk satu periode dan untuk setiap 4 bulan

· Mengusahakan dana yang halal dan tidak mengikat

· Melaporkan keuangan setiap 4 bulan

· Mengusahakan dan mengkoordinir iuran anggota setiap bulan

  1. Bidang Penelitian, Pengembangan dan Pembinaan Anggota

· Membuat format pengkaderan ditingkat HIMABO (PELAKAT)

· Membuat format kajian keilmuan dan penelitian ditingkat HIMABO

· Mengadakan seminar dan bedah buku

· Melakukan penilaiandan penelitian baik secara kualitatif maupun kuantitatif terhadap aktifitas-aktifitas kader dilingkungan kampus yang dituangkan dalam bentuk karya ilmiah

· Fasilitator bagi aktualisasi kader di HIMABO

· Mengadakan training-training ditingkat HIMABO

· Mengembangkan dan membudayakan potensi menulis para kader HIMABO

· Membuat media komunikasi antar kader ditingkat HIMABO (Buletin)

· Meningkatkan pemberdayaan bakat dan potensi kader HIMABO

· Mengadakan rapat koordinator bidang 1x sebulan

  1. Bidang Perguruan Tinggi, Kemahasiswaan dan Kepemudaan (PTKP)

· Melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mengundang partisivasi kader dan alumni HIMABO dilingkungan perguruan tinggi

· Mensukseskan kegiatan yang menunjang partisipasi anggota dan alumni HIMABO yang menyangka agenda kampus

· Membangun jaringan kerja di dalam dan di luar lingkungan organisasi melalui kegiatan kerjasama antar oranisasi

· Memprakarsa kegiatan-kegiatan agama islam dilingkungan kampus

· Melakukan penilaian dan penelitian baik secara kualitatif maupun kuantitatif terhadap aktifitas-aktifitas kader yang dituangkan dalam bentuk karya ilmiah

· Melakukan kegiatan aksi dengan melibatkan anggota dan alumni sebagai upaya relasi tri darma perguruan tinggi dan hal-hal yang terkait dengan kebijakan pemerintah

· Menjalin kerja sama di dalam maupun di luar lingkungn kampus yang berkenaan dengan seni dan olah raga

· Mengadakan rapat koordinasi bidang 1 x sebulan

  1. Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan profesi

· Menyelenggarakan pembinaan dan pengembangan potensi kader melalui training-training

· Menyelenggarakan kegiatan kerja yang dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas kader

· Menjalin kerja sama dengan instansi lain demi meningkatkan usaha bersama

· Mengusahakan dana alternative, baik berupa dana maupun barang

· Membuat aksesoris (PIN, Jaket, kaos, dan karya lainnya) sewbagai bentuk karya nyata kader HIMABO

· Mengadakan rapat koordinasi bidang 1 x sebulan

  1. Bidang Pemberdayaan Perempuan

· Mengoptimalisasi peran perempuan

· Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas HIMABO wati sesuai dengan perkembangan dunia keperempuan dalam kehidupan masyarakat umum

· Membangun link dan mengadakan kegiatan bersama dengan komunitas/LSM yang bergerak dalam perjuangan gender (seminar gender)

· Mengangkat topik-topik keperempuan pada forum diskusi di tingkat HIMABO

· Mengadakan rapat koordinasi bidang 1 x sebulan

  1. Bidang Pengabdian Masyarakat

· Melakuakn penilaian dan penelitian terhadap kebutuhan masyarakat akan bakti kader dalam realitas kehidupan masyarakat

· Mengadakan pesantren kilat dan bakti sosial

· Mendelegasikan kader menjadi relawan sebagai bentuk nyata dari pengabdiannya terhadap masyarakat

· Mengadakan kegiatan pada hari-hari besar islam

· Mengadakan rapat koordinasi bidang 1 x sebulan

  1. Bidang Keuangan dan Perlengkapan

· Menyusun anggaran dan pengeluaran untuk satu periode dan untuk setiap 4 bulan

· Mengelola sumber-sumber penerimaan organisasi sesuai dengan ketentuan organisasi yang berlaku

· Menyelenggarakan administrasi keuangan untuk setiap penerimaan dan pengeluaran organisasi berdasarkan pedoman organisasi

· Melakukan usaha-usaha yang daoat mendorong aparat organisasi untuk menigkatkan sumber dana intern khususnya dari iuran anggota

· Mengatur dan mengurus pengamanan dan pemeliharaan, perbaikan dan penambahan perlengkapan organisasi dengan :

a. Mengadakan kontrol terhadap pemakaian peralatan organisasi

b. Mengusahakan perlengkapan organisasi yang sesuai kebutuhan

c. Menyusun daftar inventarisasi organisasi

d. Mengatur perawatan dan pemeliharaan seluruh perlengkapan organisasi

    • Mengatur dan mengurus kebersihan dan keindahan sekretariat

KONSIDERAN

KETETAPAN

RAKER Himpunan Mahasiswa Bogor (HIMABO) jakarta

No :02 /RAKER/HIMABO/

Tentang

RANCANGAN KERJA

HIMPUNAN MAHASISWA BOGOR

JAKARTA

Bismillahirrahmanirrahim

Badami Ageung BADAG himpunan mahasiswa bogor (HIMABO) Jakarta, dengan ini senantiasa mengharapkan ridho Allah SWT, setelah :

Menimbang :1. Untuk kelancaran dan ketertiban Badami Ageung ( (BADAG)

2. HIMABO Jakarta

Mengingat : AD/ART HIMABO Hasil BADAG

Memperhatiakn : Hasil Pembahasan Sidang

Memutuskan

Menetapkan

1. Rancangan kerja Himpunan MahasiswaBogor Jakarta


2. ketetapan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan akan ditinjau kembali bila terdapat kekeliruan

Ditetapkan di Ciputat, Tangerang

Tanggal : 07 November 2008

PIMPINAN SIDANG

RAAT KERJA ( RAKER )

HIMPUNAN MAHASISWA BOGOR (HIMABO)

JAKARTA

Sofyan Ade Nansi Maulana yusuf M.Iqbal

(presidium I) (presidium II) (presidium III)

REKOMENDASI RAPAT KERJA (RAKER)

HIPUNAN MAHASISWA BOGOR (HIMABO)

JAKARTA

Periode 2008-2009

  1. Meningkatkan konsulidasi kerja antara pengurus atau anggota sehingga mewujudkan sikap kebijaksanaan program-program organisasi.
  2. Menumbuhkan tradisi-tradisi intelektual dilingkiungan HIMABO Jakarta dengan meningkatkan aktifitas keilmuan yang lebih meningkatkan kualitas individu.
  3. Mengadakan kerjasama dengan organisasi / lembaga lain dengan prinsif saling menguntungkan dan tidak mengikat. Hal ini sangat erat kaitannya dengan peran strategis eksternal HIMABO Jakarta.
  4. Menginventarisir dan merapijkan data keanggotaan.
  5. Mengusahakan sekretariat HIMABO Jakarta.
  6. Mendaftarkan organisasi kepada aparat yang berwenang baik pemerintah maupun masyarakat.
  7. Mensosialisasikan HIMABO Jakarta kepada mahasiswa Bogor seluruh Indonesia.
  8. Melakukan pengkajian tentang strategis pemerintahan Kota dan Kabupaten Bogor.
  9. Mengembangkan kesenian dan bakat dan kreatifitas mahasiswa dan pemuda Bogor.
  10. Menyerukan gerakan moral bagi pemerintah dan masyarakat Bogor. Antara lain :
  1. Anti korupsi dan mengkampanyekan birokrasi yang melayani
  2. Anti narkoba dan pencegahan.
  3. Pendidikan dan pelayanan kesehatah murah, mudah dan berkualitas bagi masyarakat Bogor.
  4. Mengkampanyekan Bogor hijau dan bersih.

KONSIDERAN

KETETAPAN

RAKER Himpunan Mahasiswa Bogor (HIMABO) jakarta

No :02 /BADAG/HIMABO/

Tentang

REKOMENDASI RAPAT KERJA (RAKER)

HIPUNAN MAHASISWA BOGOR (HIMABO)

JAKARTA

Bismillahirrahmanirrahim

Rapat Keraja ( RAKER ) Himpunan Mahasiswa Bogor (HIMABO) Jakarta, dengan ini senantiasa mengharapkan ridho Allah SWT, setelah :

Menimbang

:1. Untuk kelancaran dan ketertiban Rapat Kerja ( RAKER)

2. HIMABO Jakarta

Mengingat : AD/ART HIMABO

Hasil BADAG

Memperhatiakn : Hasil Pembahasan Sidang

Memutuskan

Menetapkan

1. rekomendasi rapat kerja (raker) hipunan mahasiswa bogor (himabo) jakarta


2. ketetapan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan akan ditinjau kembali bila terdapat kekeliruan

Ditetapkan di Ciputat, tangerang

Tanggal : 07 November 2008

PIMPINAN SIDANG

BADAMI AGEUNG BADAG

HIMPUNAN MAHASISWA BOGOR (HIMABO)

JAKARTA

Sofyan Ade Nansi Maulana yusuf M.Iqbal

(presidium I) (presidium II) (presidium III)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Gerakan mahasiswa di Indonesia

Gerakan mahasiswa di Indonesia adalah kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya.
Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa.
Sejarah
1908
Boedi Oetomo, merupakan wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh pemuda-pelajar-mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkannya.
Pada konggres yang pertama di
Yogyakarta, tanggal 5 Oktober 1908 menetapkan tujuan perkumpulan : Kemajuan yang selaras buat negeri dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri, serta kebudayaan.
Dalam 5 tahun permulaan BU sebagai perkumpulan, tempat keinginan-keinginan bergerak maju dapat dikeluarkan, tempat kebaktian terhadap bangsa dinyatakan, mempunyai kedudukan monopoli dan oleh karena itu BU maju pesat, tercatat akhir tahun 1909 telah mempunyai 40 cabang dengan lk.10.000 anggota.
Disamping itu, para mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda, salah satunya
Mohammad Hatta yang saat itu sedang belajar di Nederland Handelshogeschool di Rotterdam mendirikan Indische Vereeninging yang kemudian berubah nama menjadi Indonesische Vereeninging tahun 1922, disesuaikan dengan perkembangan dari pusat kegiatan diskusi menjadi wadah yang berorientasi politik dengan jelas. Dan terakhir untuk lebih mempertegas identitas nasionalisme yang diperjuangkan, organisasi ini kembali berganti nama baru menjadi Perhimpunan Indonesia, tahun 1925.
Berdirinya Indische Vereeninging dan organisasi-organisasi lain,seperti:
Indische Partij yang melontarkan propaganda kemerdekaan Indonesia, Sarekat Islam, dan Muhammadiyah yang beraliran nasionalis demokratis dengan dasar agama, Indische Sociaal Democratische Vereeninging (ISDV) yang berhaluan Marxisme, menambah jumlah haluan dan cita-cita terutama ke arah politik. Hal ini di satu sisi membantu perjuangan rakyat Indonesia, tetapi di sisi lain sangat melemahkan BU karena banyak orang kemudian memandang BU terlalu lembek oleh karena hanya menuju "kemajuan yang selaras" dan terlalu sempit keanggotaannya (hanya untuk daerah yang berkebudayaan Jawa) meninggalkan BU. Oleh karena cita-cita dan pemandangan umum berubah ke arah politik, BU juga akhirnya terpaksa terjun ke lapangan politik.
Kehadiran Boedi Oetomo,Indische Vereeninging, dll pada masa itu merupakan suatu episode sejarah yang menandai munculnya sebuah angkatan pembaharu dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai aktor terdepannya, yang pertama dalam sejarah Indonesia : generasi 1908, dengan misi utamanya menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan, dan mendorong semangat rakyat melalui penerangan-penerangan pendidikan yang mereka berikan, untuk berjuang membebaskan diri dari penindasan kolonialisme.
[
sunting] 1928
Pada pertengahan 1923, serombongan mahasiswa yang bergabung dalam Indonesische Vereeninging (nantinya berubah menjadi Perhimpunan Indonesia) kembali ke tanah air. Kecewa dengan perkembangan kekuatan-kekuatan perjuangan di Indonesia, dan melihat situasi politik yang di hadapi, mereka membentuk kelompok studi yang dikenal amat berpengaruh, karena keaktifannya dalam diskursus kebangsaan saat itu. Pertama, adalah
Kelompok Studi Indonesia (Indonesische Studie-club) yang dibentuk di Surabaya pada tanggal 29 Oktober 1924 oleh Soetomo. Kedua, Kelompok Studi Umum (Algemeene Studie-club) direalisasikan oleh para nasionalis dan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik di Bandung yang dimotori oleh Soekarno pada tanggal 11 Juli 1925.
Diinspirasi oleh pembentukan Kelompok Studi Surabaya dan Bandung, menyusul kemudian
Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), prototipe organisasi yang menghimpun seluruh elemen gerakan mahasiswa yang bersifat kebangsaan tahun 1926, Kelompok Studi St. Bellarmius yang menjadi wadah mahasiswa Katolik, Cristelijke Studenten Vereninging (CSV) bagi mahasiswa Kristen, dan Studenten Islam Studie-club (SIS) bagi mahasiswa Islam pada tahun 1930-an.
Dari kebangkitan kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda itulah, munculnya generasi baru pemuda Indonesia yang memunculkan
Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda dicetuskan melalui Konggres Pemuda II yang berlangsung di Jakarta pada 26-28 Oktober 1928, dimotori oleh PPPI.
[
sunting] 1945
Dalam perkembangan berikutnya, dari dinamika pergerakan nasional yang ditandai dengan kehadiran kelompok-kelompok studi, dan akibat pengaruh sikap penguasa Belanda yang menjadi Liberal, muncul kebutuhan baru untuk menjadi partai politik, terutama dengan tujuan memperoleh basis massa yang luas. Kelompok Studi Indonesia berubah menjadi
Partai Bangsa Indonesia (PBI), sedangkan Kelompok Studi Umum menjadi Perserikatan Nasional Indonesia (PNI).
Secara umum kondisi pendidikan maupun kehidupan politik pada zaman pemerintahan Jepang jauh lebih represif dibandingkan dengan kolonial Belanda, antara lain dengan melakukan pelarangan terhadap segala kegiatan yang berbau politik; dan hal ini ditindak lanjuti dengan membubarkan segala organisasi pelajar dan mahasiswa, termasuk partai politik, serta insiden kecil di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta yang mengakibatkan mahasiswa dipecat dan dipenjarakan.
Praktis, akibat kondisi yang vacuum tersebut, maka mahasiswa kebanyakan akhirnya memilih untuk lebih mengarahkan kegiatan dengan berkumpul dan berdiskusi, bersama para pemuda lainnya terutama di asrama-asrama. Tiga asrama yang terkenal dalam sejarah, berperan besar dalam melahirkan sejumlah tokoh, adalah Asrama Menteng Raya, Asrama Cikini, dan Asrama Kebon Sirih. Tokoh-tokoh inilah yang nantinya menjadi cikal bakal generasi 1945, yang menentukan kehidupan bangsa.
Salah satu peran angkatan muda 1945 yang bersejarah, dalam kasus gerakan kelompok bawah tanah yang antara lain dipimpin oleh
Chairul Saleh dan Soekarni saat itu, yang terpaksa menculik dan mendesak Soekarno dan Hatta agar secepatnya memproklamirkan kemerdekaan, peristiwa ini dikenal kemudian dengan peristiwa Rengasdengklok.
[
sunting] 1966
Sejak kemerdekaan, muncul kebutuhan akan aliansi antara kelompok-kelompok mahasiswa, diantaranya
Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), yang dibentuk melalui Kongres Mahasiswa yang pertama di Malang tahun 1947.
Selanjutnya, dalam masa Demokrasi Liberal (1950-1959), seiring dengan penerapan sistem kepartaian yang majemuk saat itu, organisasi mahasiswa ekstra kampus kebanyakan merupakan organisasi dibawah partai-partai politik. Misalnya, PMKRI
Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia dengan Partai Katholik,Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dekat dengan PNI, Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dekat dengan PKI, Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia (Gemsos) dengan PSI, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berafiliasi dengan Partai NU, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan Masyumi, dan lain-lain.
Diantara organisasi mahasiswa pada masa itu, CGMI lebih menonjol setelah PKI tampil sebagai salah satu partai kuat hasil Pemilu 1955. CGMI secara berani menjalankan politik konfrontasi dengan organisasi mahasiswa lainnya, bahkan lebih jauh berusaha mempengaruhi PPMI, kenyataan ini menyebabkan perseteruan sengit antara CGMI dengan HMI dan, terutama dipicu karena banyaknya jabatan kepengurusan dalam PPMI yang direbut dan diduduki oleh CGMI dan juga GMNI-khususnya setelah Konggres V tahun 1961.
Mahasiswa membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tanggal 25 Oktober 1966 yang merupakan hasil kesepakatan sejumlah organisasi yang berhasil dipertemukan oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) Mayjen dr. Syarief Thayeb, yakni PMKRI, HMI,PMII,Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi Lokal (SOMAL), Mahasiswa Pancasila (Mapancas), dan Ikatan Pers Mahasiswa (IPMI). Tujuan pendiriannya, terutama agar para aktivis mahasiswa dalam melancarkan perlawanan terhadap PKI menjadi lebih terkoordinasi dan memiliki kepemimpinan.
Munculnya KAMI diikuti berbagai aksi lainnya, seperti Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), dan lain-lain.
Pada tahun
1965 dan 1966, pemuda dan mahasiswa Indonesia banyak terlibat dalam perjuangan yang ikut mendirikan Orde Baru. Gerakan ini dikenal dengan istilah Angkatan '66, yang menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional, sementara sebelumnya gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan. Tokoh-tokoh mahasiswa saat itu adalah mereka yang kemudian berada pada lingkar kekuasaan Orde Baru, di antaranya Cosmas Batubara (Eks Ketua Presidium KAMI Pusat), Sofyan Wanandi, Yusuf Wanandi ketiganya dari PMKRI,Akbar Tanjung dari HMI dll. Angkatan '66 mengangkat isu Komunis sebagai bahaya laten negara. Gerakan ini berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung mahasiswa menentang Komunis yang ditukangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Setelah Orde Lama berakhir, aktivis Angkatan '66 pun mendapat hadiah yaitu dengan banyak yang duduk di kursi DPR/MPR serta diangkat dalam kabibet pemerintahan Orde Baru. di masa ini ada salah satu tokoh yang sangat idealis,yang sampai sekarang menjadi panutan bagi mahasiswa-mahasiswa yang idealis setelah masanya,dia adalah seorang aktivis yang tidak peduli mau dimusuhi atau didekati yang penting pandangan idealisnya tercurahkan untuk bangsa ini,dia adealah soe hok gie
[
sunting] 1974
Realitas berbeda yang dihadapi antara gerakan mahasiswa 1966 dan 1974, adalah bahwa jika generasi 1966 memiliki hubungan yang erat dengan kekuatan militer, untuk generasi 1974 yang dialami adalah konfrontasi dengan militer.
Sebelum gerakan mahasiswa 1974 meledak, bahkan sebelum menginjak awal 1970-an, sebenarnya para mahasiswa telah melancarkan berbagai kritik dan koreksi terhadap praktek kekuasaan rezim Orde Baru, seperti:
Golput yang menentang pelaksanaan pemilu pertama di masa Orde Baru pada 1972 karena Golkar dinilai curang.
Gerakan menentang pembangunan
Taman Mini Indonesia Indah pada 1972 yang menggusur banyak rakyat kecil yang tinggal di lokasi tersebut.
Diawali dengan reaksi terhadap kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), aksi protes lainnya yang paling mengemuka disuarakan mahasiswa adalah tuntutan pemberantasan korupsi. Lahirlah, selanjutnya apa yang disebut gerakan "Mahasiswa Menggugat" yang dimotori
Arif Budiman yang progaram utamanya adalah aksi pengecaman terhadap kenaikan BBM, dan korupsi.
Menyusul aksi-aksi lain dalam skala yang lebih luas, pada 1970 pemuda dan mahasiswa kemudian mengambil inisiatif dengan membentuk Komite Anti Korupsi (KAK) yang diketuai oleh
Wilopo. Terbentuknya KAK ini dapat dilihat merupakan reaksi kekecewaan mahasiswa terhadap tim-tim khusus yang disponsori pemerintah, mulai dari Tim Pemberantasan Korupsi (TPK), Task Force UI sampai Komisi Empat.
Berbagai borok pembangunan dan demoralisasi perilaku kekuasaan rezim Orde Baru terus mencuat. Menjelang Pemilu 1971, pemerintah Orde Baru telah melakukan berbagai cara dalam bentuk rekayasa politik, untuk mempertahankan dan memapankan status quo dengan mengkooptasi kekuatan-kekuatan politik masyarakat antara lain melalui bentuk perundang-undangan. Misalnya, melalui undang-undang yang mengatur tentang pemilu, partai politik, dan MPR/DPR/DPRD.
Muncul berbagai pernyataan sikap ketidakpercayaan dari kalangan masyarakat maupun mahasiswa terhadap sembilan partai politik dan Golongan Karya sebagai pembawa aspirasi rakyat. Sebagai bentuk protes akibat kekecewaan, mereka mendorang munculnya Deklarasi Golongan Putih (
Golput) pada tanggal 28 Mei 1971 yang dimotori oleh Arif Budiman, Adnan Buyung Nasution, Asmara Nababan.
Dalam tahun 1972, mahasiswa juga telah melancarkan berbagai protes terhadap pemborosan anggaran negara yang digunakan untuk proyek-proyek eksklusif yang dinilai tidak mendesak dalam pembangunan,misalnya terhadap proyek pembangunan
Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di saat Indonesia haus akan bantuan luar negeri.
Protes terus berlanjut. Tahun 1972, dengan isu harga beras naik, berikutnya tahun 1973 selalu diwarnai dengan isu korupsi sampai dengan meletusnya demonstrasi memprotes PM Jepang
Kakuei Tanaka yang datang ke Indonesia dan peristiwa Malari pada 15 Januari 1974. Gerakan mahasiswa di Jakarta meneriakan isu "ganyang korupsi" sebagai salah satu tuntutan "Tritura Baru" disamping dua tuntutan lainnya Bubarkan Asisten Pribadi dan Turunkan Harga; sebuah versi terakhir Tritura yang muncul setelah versi koran Mahasiswa Indonesia di Bandung sebelumnya. Gerakan ini berbuntut dihapuskannya jabatan Asisten Pribadi Presiden.
[
sunting] 1978
Setelah peristiwa Malari, hingga tahun 1975 dan 1976, berita tentang aksi protes mahasiswa nyaris sepi. Mahasiswa disibukkan dengan berbagai kegiatan kampus disamping kuliah sebagain kegiatan rutin, dihiasi dengan aktivitas kerja sosial, Kuliah Kerja Nyata (KKN), Dies Natalis, acara penerimaan mahasiswa baru, dan wisuda sarjana. Meskipun disana-sini aksi protes kecil tetap ada.
Menjelang dan terutama saat-saat antara sebelum dan setelah Pemilu 1977, barulah muncul kembali pergolakan mahasiswa yang berskala masif. Berbagai masalah penyimpangan politik diangkat sebagai isu, misalnya soal pemilu mulai dari pelaksanaan kampanye, sampai penusukan tanda gambar, pola rekruitmen anggota legislatif, pemilihan gubernur dan bupati di daerah-daerah, strategi dan hakekat pembangunan, sampai dengan tema-tema kecil lainnya yang bersifat lokal. Gerakan ini juga mengkritik strategi pembangunan dan kepemimpinan nasional.
Awalnya, pemerintah berusaha untuk melakukan pendekatan terhadap mahasiswa, maka pada tanggal 24 Juli 1977 dibentuklah Tim Dialog Pemerintah yang akan berkampanye di berbagai perguruan tinggi. Namun demikian, upaya tim ini ditolak oleh mahasiswa. Pada periode ini terjadinya pendudukan militer atas kampus-kampus karena mahasiswa dianggap telah melakukan pembangkangan politik, penyebab lain adalah karena gerakan mahasiswa 1978 lebih banyak berkonsentrasi dalam melakukan aksi diwilayah kampus. Karena gerakan mahasiswa tidak terpancing keluar kampus untuk menghindari peristiwa tahun 1974, maka akhirnya mereka diserbu militer dengan cara yang brutal. Hal ini kemudian diikuti oleh dihapuskannya Dewan Mahasiswa dan diterapkannya kebijakan
NKK/BKK di seluruh Indonesia.
Soeharto terpilih untuk ketiga kalinya dan tuntutan mahasiswa pun tidak membuahkan hasil. Meski demikian, perjuangan gerakan mahasiswa 1978 telah meletakkan sebuah dasar sejarah, yakni tumbuhnya keberanian mahasiswa untuk menyatakan sikap terbuka untuk menggugat bahkan menolak kepemimpinan nasional.
[
sunting] Era NKK/BKK
Setelah gerakan mahasiswa 1978, praktis tidak ada gerakan besar yang dilakukan mahasiswa selama beberapa tahun akibat diberlakukannya konsep Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) oleh pemerintah secara paksa.
Kebijakan NKK dilaksanakan berdasarkan SK No.0156/U/1978 sesaat setelah
Dooed Yusuf dilantik tahun 1979. Konsep ini mencoba mengarahkan mahasiswa hanya menuju pada jalur kegiatan akademik, dan menjauhkan dari aktivitas politik karena dinilai secara nyata dapat membahayakan posisi rezim. Menyusul pemberlakuan konsep NKK, pemerintah dalam hal ini Pangkopkamtib Soedomo melakukan pembekuan atas lembaga Dewan Mahasiswa, sebagai gantinya pemerintah membentuk struktur keorganisasian baru yang disebut BKK. Berdasarkan SK menteri P&K No.037/U/1979 kebijakan ini membahas tentang Bentuk Susunan Lembaga Organisasi Kemahasiswaan di Lingkungan Perguruan Tinggi, dan dimantapkan dengan penjelasan teknis melalui Instruksi Dirjen Pendidikan Tinggi tahun 1978 tentang pokok-pokok pelaksanaan penataan kembali lembaga kemahasiswaan di Perguruan Tinggi.
Kebijakan BKK itu secara implisif sebenarnya melarang dihidupkannya kembali Dewan Mahasiswa, dan hanya mengijinkan pembentukan organisasi mahasiswa tingkat fakultas (Senat Mahasiswa Fakultas-SMF) dan Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas (BPMF). Namun hal yang terpenting dari SK ini terutama pemberian wewenang kekuasaan kepada rektor dan pembantu rektor untuk menentukan kegiatan mahasiswa, yang menurutnya sebagai wujud tanggung jawab pembentukan, pengarahan, dan pengembangan lembaga kemahasiswaan.
Dengan konsep NKK/BKK ini, maka peranan yang dimainkan organisasi intra dan ekstra kampus dalam melakukan kerjasama dan transaksi komunikasi politik menjadi lumpuh. Ditambah dengan munculnya UU No.8/1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan maka politik praktis semakin tidak diminati oleh mahasiswa, karena sebagian Ormas bahkan menjadi alat pemerintah atau golongan politik tertentu. Kondisi ini menimbulkan generasi kampus yang apatis, sementara posisi rezim semakin kuat.
Sebagai alternatif terhadap suasana birokratis dan apolitis wadah intra kampus, di awal-awal tahun 80-an muncul kelompok-kelompok studi yang dianggap mungkin tidak tersentuh kekuasaan refresif penguasa. Dalam perkembangannya eksistensi kelompok ini mulai digeser oleh kehadiran wadah-wadah
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang tumbuh subur pula sebagai alternatif gerakan mahasiswa. Jalur perjuangan lain ditempuh oleh para aktivis mahasiswa dengan memakai kendaraan lain untuk menghindari sikap represif pemerintah, yaitu dengan meleburkan diri dan aktif di Organisasi kemahasiswaan ekstra kampus seperti HMI (himpunan mahasiswa islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) atau yang lebih dikenal dengan kelompok Cipayung. Mereka juga membentuk kelompok-kelompok diskusi dan pers mahasiswa.
Beberapa kasus lokal yang disuarakan LSM dan komite aksi mahasiswa antara lain: kasus tanah waduk
Kedung Ombo, Kacapiring, korupsi di Bapindo, penghapusan perjudian melalui Porkas/TSSB/SDSB.
[
sunting] 1990
Memasuki awal tahun 1990-an, di bawah Mendikbud Fuad Hasan kebijakan NKK/BKK dicabut dan sebagai gantinya keluar Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (PUOK). Melalui PUOK ini ditetapkan bahwa organisasi kemahasiswaan intra kampus yang diakui adalah Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT), yang didalamnya terdiri dari Senat Mahasiswa Fakultas (SMF) dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Dikalangan mahasiswa secara kelembagaan dan personal terjadi pro kontra, menamggapi SK tersebut. Oleh mereka yang menerima, diakui konsep ini memiliki sejumlah kelemahan namun dipercaya dapat menjadi basis konsolidasi kekuatan gerakan mahasiswa. Argumen mahasiswa yang menolak mengatakan, bahwa konsep SMPT tidak lain hanya semacam hiden agenda untuk menarik mahasiswa ke kampus dan memotong kemungkinan aliansi mahasiswa dengan kekuatan di luar kampus.
Dalam perkembangan kemudian, banyak timbul kekecewaan di berbagai perguruan tinggi karena kegagalan konsep ini. Mahasiswa menuntut organisasi kampus yang mandiri, bebas dari pengaruh korporatisasi negara termasuk birokrasi kampus. Sehingga, tidaklah mengherankan bila akhirnya berdiri Dewan Mahasiswa di UGM tahun 1994 yang kemudian diikuti oleh berbagai perguruan tinggi di tanah air sebagai landasan bagi pendirian model organisasi kemahasiswaan alternatif yang independen.
Dengan dihidupkannya model-model kelembagaan yang lebih independen, meski tidak persis serupa dengan Dewan Mahasiswa yang pernah berjaya sebelumnya upaya perjuangan mahasiswa untuk membangun kemandirian melalui SMPT, menjadi awal kebangkitan kembali mahasiswa ditahun 1990-an.
Gerakan yang menuntut kebebasan berpendapat dalam bentuk kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik di dalam kampus pada
1987 - 1990 sehingga akhirnya demonstrasi bisa dilakukan mahasiswa di dalam kampus perguruan tinggi. Saat itu demonstrasi di luar kampus termasuk menyampaikan aspirasi dengan longmarch ke DPR/DPRD tetap terlarang.
1998
Gerakan 1998 menuntut
reformasi dan dihapuskannya "KKN" (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998, lewat pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, akhirnya memaksa Presiden Soeharto melepaskan jabatannya. Berbagai tindakan represif yang menewaskan aktivis mahasiswa dilakukan pemerintah untuk meredam gerakan ini di antaranya: Peristiwa Cimanggis, Peristiwa Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II , Tragedi Lampung. Gerakan ini terus berlanjut hingga pemilu 1999.

Sumber :Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS